FORSATER.com – Minggatnya tiga channel milik MNC Group, RCTI, GlobalTV dan MNC TV dari Ninmedia Indonesia yang bermukim di satelit Chinasat 11 membuat heboh dunia persatelitan. Wajar saja, dengan hadirnya ketiga channel tersebut di Chinasat 11 membuat satelit ini menjadi lebih komplit dibandingkan Palapa D. Beberapa channel bahkan ‘eksklusif’ hanya ada di Ninmedia.
Baca Juga:
» SCTV dan Indosiar Hilang, Ini Solusinya
» Gara-Gara Beli Hak Siar Liga Inggris, Pay TV ini Bangkrut
Apalagi, satelit ini bisa didapatkan hanya dengan menggunakan dish atau parabola mini. Selain hemat tempat, juga lebih hemat modal awal, apalagi bisa menggunakan dish bekas pay tv. Namun siapa sangka, belum genap setengah tahun, ketiga siaran televisi unggulan tersebut pun menarik diri dari Ninmedia.
Sebenarnya, hal ini sudah bisa diprediksi sejak awal. Ninmedia, sebagai perusahaan penyedia jasa infrastruktur channel hosting dan pengembangan isi (content) yang berorientasi dalam pengembangan ekosistem penyiaran channel Free to Air (FTA) via satelit, mengharapkan keuntungan dari sistem sewa hosting satelit dari setiap channel.
Pembayaran dilakukan setelah dilakukan serangkaian ujicoba dalam waktu yang sudah disepakati. Harga yang ditetapkan juga jauh lebih murah dibandingkan dari satelit Palapa D dan Telkom 1. Bagi ketiga channel milik MNC Group tersebut bukan sekedar harga. Namun, nilai eksklusif dari suatu channel.
Bisa dilihat, sejak dulu pay tv milik MNC Group dikenal karena keeksklusifan sejumlah channel didalamnya. Makanya, jangankan membayar, bahkan dibayar pun ketiga channel ini tidak akan hadir.
Lihat pay tv di Indonesia. Saat ini, cuma Transvision stasiun televisi berlangganan diluar MNC Group yang memiliki ketiga channel yang bernaung dibawah MNC Media tersebut. Itu pun lantaran diduga ada ‘tukar guling’ dengan dua channel milik TransMedia, TransTV dan Trans7.
Selain nilai eksklusif, penyebab lainnya stasiun televisi yang sudah memiliki nama seperti RCTI, GlobalTV dan MNCTV enggan hadir di satelit ini terkait rating. Stasiun televisi di Indonesia masih berlomba-lomba mengejar rating.
Sementara, penilaian untuk rating tersebut hanya dilakukan untuk stasiun televisi yang dipancarkan melalui teresterial, bukan satelit. Tentu saja perusahaan enggan mengeluarkan biaya meski bisa menambah pemirsa, namun tidak mempengaruhi rating.
Sejauh ini satelit hanya digunakan sebagai media untuk ‘menghantarkan’ siaran televisi tersebut ke stasiun relay. (sc-01)
Tamat sdh ninmedia bentar lagi indosiar sctv tvri antv trans tv trans 7 tv one out.
Mau nyari balikan modal krna perindo kalah makanya skrang mnc grup berbayar aj yg bisa nonton
Sombong kali……gmna mau jadi panutan.
Kami masyarakat kecil di daerah pedesaan pedalaman sangat kecewa dengan kebijakan pemerintah maupun swasta dengan hak siaran terutama sepakbola indonesia, sangat-sangat merugikan pemuda yang berminat , dengan demikian para peminat sangat dirugikan akibat ulah para yang hanya menguntunhkan plhak tertentu.
Mnc group modar.gda di ninmedia.ada apakah gerangan.mnc group pelit koret bahil.jahanam kau di daerah wonosari malang tanpa parabola tidak bs nntn tv.buatku mnc group tewas d ninmedia ga masalah tp kluargaku penggemar berat sinetron ojeg pengkolak jd tamat dah ga bs nntn lg.
Mohon untuk mnc group kmi setia dg tayang2an nya,tolong untk mnc di ninmedia kmi daerah terpencil sangat butuh kabar berita,,,
Cuman mau nonton tv aja di persulit.masih kurang ya MNC group dapat uang dari iklan .ternyata bukan orang jawa.juga indonesia.memang belum merdeka.
Terbukti partai perindo tidak merakyat
Sombong mnc grup. Jangan pilih parati perindi. Terbukiti tv aja perhitungan. Apalagi yg lain. Parah pasti . Jangan pilih partai perindo
Kalo tanpa mengandalakan parabola ditempatku kualitas gambar jelek,MNC group lebih baik bergabung lagi ke NINMEDIA
Pemilik MNC goup itu kan Pak Hary Tanusudibyo bukan..?
Rudy tanu
MNC modar to